Science Fiction (Sci Fi)


           Dalam sejarahnya, istilah science fiction bermula dari Hugo Gernsback (1884-1967), warga Amerika Serikat kelahiran Luxembourg yang dipandang sebagai pelopor science fiction modern. Dalam edisi pertama Amazing Stories (April 1926), majalah pertama khusus cerita-cerita yang meleburkan sains dan teknologi dengan fiksi, Gernsback menggunakan istilah scientifiction untuk menyebut "cerita-cerita ala Jules Verne, H.G. Wells, dan Edgar Allan Poe -- roman elok yang berpadu dengan fakta keilmuan dan visi kenabian..."
Sejak 1930-an science fiction-lah yang dipakai. Lagi-lagi asalnya dari Gernsback, yang mula-mula menggunakannya dalam editorial edisi pertama Science Wonder Stories (Juni 1929). Banyak orang menyingkatnya menjadi sci-fi, istilah yang dilontarkan pertama kali oleh Forrest J. Ackerman pada 1954. Tapi kalangan 'dalam' lebih menyukai SF.
Yang terpenting dan mesti di urutan pertama adalah fiksi, atau fiksi spekulatif yang jangkauannya lebih luas --  bahkan meliputi horor dan fantasi. Apa pun jenisnya, tak bisa dibantah bahwa semuanya hanyalah rekaan, khayalan. Yang dibayangkan adalah dampak dari sains dan teknologi terhadap masyarakat dan orang per orang. Sains dan teknologi, jelas, unsur terpenting kedua. Yang lain bisa disebut, misalnya, usaha ekstrapolasi konsep-konsep sains dan teknologi ke masa depan.
Beberapa kemungkinan cakupannya: (1) pengaruh sains khayalan, (2) pengaruh khayalan dari sains nyata, (3) teknologi khayalan berdasarkan sains nyata, (4) teknologi khayalan berdasarkan sains khayalan, (5) pengaruh sains dan teknologi, atau keduanya, terhadap masyarakat khayalan, (6) pengaruh sains dan teknologi, atau keduanya, terhadap individu khayalan.
Suatu cerita bisa saja menggambarkan masyarakat yang tidak biasa (misalnya peradaban extraterrestrial, ET, atau dimensi paralel atau alternatif) dan reaksi mereka yang tak lazim terhadap penemuan ilmiah, yang (bagi pembaca) umum diketahui. Alternatif lain, umpamanya, masyarakatnya mungkin biasa saja, tapi individunya adalah orang yang tak lazim (mutan) yang merespons peristiwa biasa dengan cara tak biasa.
Jika masyarakat, perorangan, teknologi, dan pengetahuan ilmiah yang menjadi dasar cerita semuanya bersifat standar dan realistis, tanpa banyak ekstrapolasi, cerita itu masuk kategori mainstream. Sebaliknya, jika tokoh-tokoh dalam cerita memiliki pikiran dan perasaan yang tak biasa terhadap hukum semesta, waktu, realitas, dan penemuan manusia dan cenderung menafsirkan ulang makna kehidupan dalam kaitannya dengan teknologi, cerita itu bisa masuk karya sastra modernis yang beririsan dengan tema science fiction.
Dengan kata lain, bahkan dalam lingkup science fiction saja ada begitu banyak kemungkinan. Tapi lalu memang jadi timbul masalah tentang bagaimana menilai sebuah cerita, mana yang baik dan mana yang boleh cepat-cepat dilupakan. Untuk urusan ini, Frederik Pohl, sahabat Asimov, punya pegangan. "Sebuah science fiction yang baik harus sanggup memprediski bukan mobilnya tapi kemacetan lalu lintasnya," katanya.
Teknik penceritaan dalam fiksiyang dikenal sebagai arus kesadaaran mula-mula ditemukan oleh seorang penulis Perancis yang tidak begitu terkenal dalam abad ke-19. Tetapi, ketika teknik penceritaan ini dipakai oleh sastrawan besar James Joyce dalam bukunya yang monumental, Ullyes, maka segera temuan teknik ini menjadi terkenal dan menggegerkan dunia sastra. Pengguna teknik baru ini dikemudian hari setelah Joyce ada yang menghasilkan karya yang lumayan tetapi banyak juga yang diabaikan begitu saja. Begitu pula sutradara Amerika, John Griffith, menjadi terkenal karena penemuan teknik close up dalam film besarnya, The Birth of A Nation. Segera saja temuan ini menjadi kamus teknologi film dalam sejarah perfilman.(Jacob Sumardjo, dalm Filsafat Seni 2000: 97).

Comments

Artikel Populer di black horse

Cara Mengisi KRS/ Melihat KHS UNIMED Terbaru

mengaktifkan kembali IDM yg Fake serial (meminta kode registrasi)

Klik di sini Untuk Mendaftar Pemilihan Kabupaten Tempat PPL Unimed 2012-2013