Sunday, July 15, 2012

Sastra dalam Hiper-sains dan Teknologi: Antara Utopia, Distopia dan Hiper-topia

Lukisan karya Susilo Budi Purwanto, Sky Calling (2009, 150 x 120 cm, cat minyak di atas kanvas).



PERKEMBANGAN sains dan teknologi mutakhir -- artificial intelligence, fraktal, bio-teknologi, nano-teknologi, cyberspace, cyborg -- telah mengusung berbagai perubahan fundamental pada dunia kehidupan, termasuk dunia seni dan sastra. Meskipun demikian, ada pandangan kritis yang berkembang, yang melihat bahwa perkembangan sains dan teknologi telah bergeser dari arah yang dibayangkan sebelumnya, dengan bentuk yang semakin rumit, dan kompleksitas yang semakin tinggi. Sains dan teknologi, yang diharapkan dapat membangun sebuah kehidupan bermakna, kini berkembang ke arah yang 'melampaui' alam dan kapasitas manusia itu sendiri.

Sejarah perkembangan sains dan teknologi memang selalu dihiasi oleh wacana-wacana kritis menyangkut efek dan pengaruhnya terhadap masa depan dunia kehidupan. Sejak pertengahan abad-19 hingga kini, beberapa pemikir, mulai Baudellaire, Tolstoy, Sorokin, hingga Heidegger, Adorno dan Virilio telah membentangkan berbagai gambaran suram sains dan teknologi, yang dilihat telah menciptakan berbagai masalah kemanusiaan, degradasi peradaban, dan penghancuran diri sendiri umat manusia (self destruction). Meskipun demikian, tidak sedikit pula pemikir-pemikir lain yang bersikap lebih optimistik terhadap perkembangan sains dan teknologi.

Terlepas dari gambaran cerah atau suram yang ditampilkannya, sains dan teknologi selalu membentangkan sebuah 'kemungkinan dunia' (the possible world) atau sebuah 'masa depan imajiner' (imaginary future), yaitu imajinasi tentang sebuah masyarakat masa depan yang dibangun melalui kekuatan sains dan teknologi. Sains dan teknologi berperan besar dalam mengkonstruksi sebuah arsitektur 'realitas' yang diimajinasikan (imagining reality), meskipun kerap sekali realitas yang dikonstruksi oleh sains dan teknologi tidak seperti yang dibayangkan, karena berbagai ekses buruk yang dihasilkannya. Ada jurang yang lebar antara imajinasi dan realitas.

Dalam relasinya dengan perkembangan sastra, khususnya sastra kontemporer Indonesia, pertanyaan mendasar yang muncul adalah apakah perkembangan sains dan teknologi mutakhir dapat berperan dalam membangun sebuah dunia sastra masa depan yang lebih imajinatif, kreatif, eksporatif dan produktif, atau malah sebaliknya menghasilkan sebuah lorong gelap dan suram yang menuju ke arah 'degradasi sastra'? Bila demikian, maka ketimbang mengambil ide atau inspirasi dari sains dan teknologi, sastra semestinya dibangun sebagai sebuah 'wacana kritis' dan 'reflektif', untuk 'memandu' arah perkembangan sains dan teknologi itu sendiri.

Sains: Utopia, Distopia, Hipertopia

Sains dan teknologi adalah sebuah bentuk 'pembentangan kemungkinan dunia' (possible world) atau sebuah 'perluasan medan pengalaman' (field of experience). Melalui sains dan teknologi 'dibentangkan' sebuah dunia yang belum pernah ada, belum terbayangkan atau belum terimajinasikan sebelumnya. Akan tetapi, pembentangan sains dan teknologi adalah pembentangan penuh ambiguitas. Di satu pihak, sains dan teknologi membentangkan semacam horizon pengharapan (horizon of expectation): pengembaraan tak bertepi, pengetahuan tanpa batas, pengalaman tanpa pembatas. Di pihak lain, ia menciptakan pula 'ketakterlukisan yang enigmatik', 'kecemasan yang tanpa akhir' (anxiety), 'rasa ketakamanan ontologis' (ontological insecurity), 'keterserapan dan kecanduan', serta 'ketakpastian identitas dan subyektivitas'.

Ada tiga kecenderungan utama pemikiran tentang sains dan teknologi dalam perannya membangun sebuah 'rumah' (oikos) atau 'tempat' (topos) bagi masyarakat manusia, yaitu: 1) utopianisme (utopianism) sebagai pandangan optimis tentang peran positif sains dan teknologi, 2) distopianisme (dystopianism), sebagai pandangan pesimis tentang sains dan teknologi, dan 3) 'hiper-topianisme' (hypertopianism), sebagai pandangan 'fatalis' tentang sains dan teknologi.

Pertama, 'utopianisme', sebagai sebuah kecenderungan pemikiran tentang sebuah 'masyarakat tanpa cela' (perfect society) di masa depan dan peran sentral sains dan teknologi dalam membangunnya. 'Utopia' dalam bahasa Yunani berarti 'tak-bertempat'. Thomas More menggunakan istilah 'utopia' untuk menggambarkan sebuah masyarakat imajiner yang berada di sebuah tempat yang jauh, sebagai model kehidupan masyarakat masa depan yang demokratis dan tanpa kelas, dengan orang-orang yang bijak. 'Utopia' menjadi sebuah istilah generik untuk melukiskan segala bentuk cerita atau narasi yang menceritakan sebuah komunitas di masa depan di mana segala sesuatu berlangsung indah, menyenangkan dan tanpa cela. [i] Marshal McLuhan, misalnya, secara optimis melihat teknologi sebagai sebuah utopia 'perpanjangan manusia' di masa depan. [ii] Pandangan optimistik semacam ini diperlihatkan pula oleh berbagai pemikir, seperti Francis Bacon, New Atlantis (1624), Herman Kahn, The Next 200 Years (1976) sampai Howard Rheingold, Virtual Reality (1993)
.

Para pemikir cyberspace, seperti John Perry Barlow, Jaron Lanier, Mark Pesce dan Timothy Leary, mengembangkan pandangan utopianisme yang lebih ekstrim, yaitu sebuah keyakinan, bahwa segala keterbatasan, hambatan dan kekurangan manusia (fisik, psikis, spiritual) dapat diatasi melalui kekuatan sains dan teknologi, khususnya teknologi realitas virtual (virtual reality), yang dapat menawarkan sebuah 'dunia baru', yang sepenuhnya dibangun secara artifisial (artificial reality)-inilah pandangan tekno-romantisisme (techno-romantism). [iii] Kemajuan sains dan teknologi mutakhir: teknologi informasi, rekayasa molekul, bioteknologi, nanoteknologi, dan pemrograman kuantum-digital dapat menciptakan di masa depan 'manusia baru' dan 'realitas baru', yang dibentuk oleh tubuh baru yang bersifat artifisial (artifisial body), yaitu tubuh-tubuh virtual. [iv]

Kedua, distopianisme (dystopianism), sebagai pandangan pesimis-skeptis tentang sains dan teknologi. 'Distopia' adalah sebuah tempat atau kondisi yang di dalamnya segala sesuatu dilukiskan tampil dalam kondisi seburuk-buruknya. Visi distopia tentang masa adalah lukisan tentang masalah-masalah serius yang ditimbulkan oleh perkembangan sains dan teknologi dan ketidakmampuan manusia mengatasi dan menanggungkan setiap bahaya, risiko dan bencananya. Untuk itu, harus ada upaya serius untuk membendung bahkan menghentikan pertumbuhan sains dan teknologi, yang bila tidak dilakukan akan membawa pada bencana dan kehancuran manusia (catasthrope). Perkembangan sains dan teknologi yang 'melampaui' menyediakan terlalu banyak fungsi dan produk, yang semakin menjauhkan manusia dari alam. Teknologi informasi, misalnya, menjadikan setiap individu sebagai subyek yang berjarak dengan dunia realitas, semacam 'penjarakan pengalaman' (distanciation). [v] Sehingga, ketimbang menghasilkan kepuasan dan kebahagiaan, teknologi sebaliknya menciptakan 'ketakpuasaan' dan 'kesadaran tak bahagia' (unhappy consciousness) yang abadi. Subyek dari hari ke hari terpasung ke dalam seduksi teknologi (seduction) dan 'terbenam' di dalam strukturnya, yang mengkerdilkan ruang untuk berpikir dan refleksi.

Ketiga, 'hiper-topianisme' (hyper-topianism), yaitu pandangan tentang lukisan dunia yang kehilangan batas, kategori dan ukuran. 'Hiper-topia' dapat dijelaskan sebagai 'tempat yang melampaui', yang mendekonstruksi segala batas, definisi dan kategori-ketegori yang ada. Bila pandangan utopianisme mempunyai definisi dan batas-batas tentang apa yang disebut 'baik', 'sempurna', 'bahagia'; dan, pandangan distopia mempunyai definisi dan batas-batas tentang apa yang disebut 'buruk', 'merusak' dan 'bencana'; pandangan hiper-topianisme tidak mempunyai definisi dan ukuran-ukuran itu, disebabkan ia dibangun oleh prinsip 'fatalisme' (fatalism).

Jean Baudrillard adalah salah satu pemikir 'hiper-utopis' macam ini, yang melihat perkembangan sains dan teknologi melalui pandangan fatalis. Sains dan teknologi dipandang telah berkembang ke arah kondisi 'melampaui' (hyper), yang tidak menyediakan lagi ruang untuk refleksi di dalamnya. Manusia tunduk pada kekuasaan sains dan teknologi, menempatkan dirinya di hadapan produk-produknya sebagai 'mayoritas yang diam' (the silent majorities), dan menjadi bagian dari setiap struktur yang diciptakannya. Ke manapun arah perkembangan sains dan teknologi, meskipun ke arah bencana (catasthrope) dan penghancuran diri sendiri (self-destruction), manusia tidak mungkin melepaskan diri darinya, di dalam semacam sebuah 'keniscayaan' (the necessity of technology), sehingga satu-satunya posisi yang tersedia adalah 'menikmati' semuanya, sebelum bencana itu datang. [vi]

Amerika, menurut Baudrillard, adalah sebuah model modernitas yang berkembang menuju titik 'ekstrim', yaitu ke arah modernitas radikal (radical modernity), yang merealisasikan dan mematerialisasikan segala sesuatu yang selama ini dianggap bersifat utopis. [vii] Di Amerika segala bentuk utopia telah tercapai, telah direalisasikan. Tak ada lagi daerah angan-angan, tanah impian, atau horizon pengharapan, karena segala hal diasumsikan bisa dicapai, direalisasikan, dimaterialisasikan. Segala bentuk metafisika, transendensi, fiksi, mimpi, halusinasi bisa dimaterialisasikan lewat kemampuan teknologi simulasi, yang menciptakan sebuah paradoks utopia atau 'hiper-utopia' . Artinya, bila utopia telah tercapai (di Amerika) maka sesungguhnya ia tidak lagi utopia. Bila impian telah menjadi realitas, maka ia bukan lagi impian-the death of utopia.

Sains, Teknologi dan Ekstrimitas

Sains modern (modern sciences) digerakkan oleh spirit utopia, yaitu spirit membangun sebuah 'tanah impian' yang fondasinya adalah kemajuan (scientific progress) dan kebaruan (newness), melalui kekuatan rasionalitas dan obyektivitas sains. Sains posmodern (postmodern sciences), di pihak lain, digerakkan oleh dua spirit sekaligus. Pertama, spirit distopia yang bersifat antiprogress dan anti-kebaruan, yang tidak percaya pada rasionalitas dan obyektivitas, dalam rangka penghargaan kembali atas 'rasionalitas-rasionalitas' sains masa lalu, yang selama ini oleh sains modern dianggap sebagai irasional, mistis dan mitologis. [viii] Kedua, spirit hiper-topia (hyper-topia), yaitu spirit 'melampaui' kemajuan dan kebaruan itu sendiri, dengan mengembangkan sains dan teknologi ke arah 'hiper-sains' atau 'hiper-teknologi' (hyper-technology).

Di dalam skema hiper-realitas, sains dan teknologi bertumbuh ke arah 'ekstrimitas', yang 'bergerak melampaui batas-batas alamiahnya', untuk memasuki berbagai bentuk 'ekstrimitas'. Segala sesuatu didorong oleh sains dan teknologi menuju titik ekstrim, dan orang terus mendorong lebih jauh lagi, sampai pada satu titik di mana setiap sistem, konsep atau argumen kehilangan logikanya sendiri, dan ia bertumbuh melampaui fungsi, tujuan, prinsip dan hakikatnya. Inilah lukisan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir, yang di dalamnya setiap entitas berkembang ke arah alam superlatif, ke arah titik 'kelimpahan' (overgrowth). Ekstrimitas menciptakan sebuah pertumbuhan paradoksal: pertumbuhan sekaligus penghancuran diri sendiri (self-destruction). Misalnya, perkembangan nuklir, rekayasa genetika dan perang bintang, yang akhirnya dihentikan (deterrence), disebabkan ia akan menggiring pada penghancuran total umat manusia sendiri. Strategi fatal (fatal strategies) adalah strategi ketika segala ancaman resiko terhadap penghancuran diri sendiri ini diabaikan dan secara pasif diterima, karena ketidakmampuan mencari 'pilihan lain'. [ix]

Donella Meadows di dalam Beyond the Limits: Global Collapse or a Sustainable Future, menggunakan istilah overshoot untuk menjelaskan pertumbuhan sains dan teknologi yang menuju titik ekstrimitas ini, menuju sebuah catasthrope. Kebutuhan akan diferensiasi produk, pembaharuan prinsip sains dan teknologinya telah mendorong ke arah eksplorasi sumberdaya alam secara berlebihan dan di luar kendali. Krisis ekologis muncul ketika 'mitos teknologi' berhadapan dengan 'batas-batas kemampuan bumi' dalam menanggungkan akibatnya. [x] Bila pertumbuhan teknologi dan industrialisasi serta ekonomisasinya tak dapat dikendalikan, maka akan terjadi global collapse dalam waktu yang tidak terlalu lama. John Leslie, di dalam The End of the World, melukiskan sebuah 'hari kehancuran' (doomsday), sebagai akibat pertumbuhan pesat ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, industri yang sarat resiko. [xi] Ada beberapa resiko kehancuran itu: bencana nuklir, perang biologi, perang kimia, kerusakan lapisan ozon, efek rumah kaca, polusi, berbagai efek negatif rekayasa genetika, dsb.

Bagi Virilio, kondisi 'ekstrimitas' tercipta akibat bergesernya peran sains dan teknologi, dari kendaraan untuk mencapai kesejahteraan dan kemajuan, ke arah mesin untuk menaklukkan waktu, yaitu 'mesin kecepatan' (dromological machine) dengan mengabaikan konsekuensi dan ekses buruknya bagi manusia-tombol speed-dial, remote control, electric toothbrush, handphone, surveillance camera, telepresence, cybersex. [xii] Virilio melihat begitu sentral peran kecepatan di masa kini, sehingga, hampir tidak ada kini yang tidak menjadi bagian dari skema kecepatan. Kecepatan kini dilihat sebagai sebuah cara 'mengada' (becoming) yang sentral di dalam abad informasi-digital. Percepatan kini "...merupakan dimensi satu-satunya dari ruang, yaitu 'ruang-kecepatan' (speed-space)". [xiii] Mesin-mesin kecepatan itu membangun ruang epilepsi (epilepsy), yaitu ruang-ruang ketakterdugaan dan frekuensi yang tak dapat diramalkan, di mana hidup digiring ke dalam sebuah 'kegamangan' , akibat muncul dan menghilangnya yang nyata, tanpa ada celah ruang dan waktu ruang bagi perenungan dan refleksi diri (self-reflection).

Ekstrimitas sains dan teknologi dapat pula dilihat dalam perannya 'mendekonstruksi' batas-batas yang selama ini dibangun di dalam aneka sistem sosial, politik, kultural dan spiritual. Dieter Lenzen, di dalam Looking Back on the End of the World, melihat perkembangan teknologi informasi-digital dewasa ini (televisi, video, internet) telah melenyapkan batas-batas sosial, khususnya batas antara 'dunia orang dewasa' (adulthood) dan 'dunia anak-anak' (childhood). Melalui perkembangan aneka media mutakhir (televisi, video, internet) sebagai bentuk baru 'ruang publik' (public sphere), maka batas-batas yang selama ini memisahkan dunia orang dewasa dan anak-anak menjadi lenyap. Anak-anak-dengan memasuki ases ke berbagai media-kini dapat memasuki dunia dewasa (dunia seksual, pornografi) yang tanpa sekat, ke dalam sebuah dunia 'telanjang' (transparent). [xiv]

'Ekstrimitas' bagi John Horgan adalah dalam pengertian bahwa sains dan teknologi telah mencapai setiap batas akhir utopianya. Di dalam The End of Science: Facing the Limits of Knowledge in the Twilight of the Scientific Age, Horgan mengatakan, bahwa segala utopia telah dicapai oleh sains dan teknologi, sehingga tidak ada lagi fantasi dan imajinasi masa depan yang dapat dibayangkan, tidak ada lagi utopia. Sains mencapai sebuah titik batas pengetahuan lengkap, yang mampu mengkonstruksi sebuah masyarakat sempurna (perfect society), yang di dalamnya tidak ada lagi yang tak mampu direalisasikan, tak ada lagi masalah tak terpecahkan, tidak ada lagi misteri yang tak tersingkap. [xv] Kini, 'teori segalanya' (theory of everything) menjadi sebuah titik akhir utopia itu, yang di dalamnya segala masalah dari setiap disiplin dapat dicari jawabannya oleh sebuah teori tunggal. Sains telah sampai pada sebuah titik balik sejarahnya (historical reversal), yang kehilangan kekuatan kemajuan, inovasi dan kebaruannya, sehingga yang tersisa bagi sains-yang disebut sains posmodern (postmodern science)-adalah mencampuradukkan segala yang ada di dalam sebuah 'eklektisisme sains', sebuah perkawinan silang yang kompleks antara sains dan bidang-bidang lainnya, seperti sastra, seni, atau agama, yang menggiring pada kondisi 'matinya sains'-the end of science.

Sains, Teknologi dan Makna

Sebuah pertanyaan sentral yang berkaitan dengan relasi antara sains, teknologi dan sastra adalah pertanyaan tentang 'makna' (meaning): apakah sains dan teknologi dapat membangun makna dan dunia bermakna? Atau, makna itu semata-mata urusan sastra? Di satu pihak, ada pandangan yang melihat sains sebagai kumpulan sistem-sistem pengetahuan, prinsip dan konsep dan teknologi sebagai kumpulan sistem-sistem fisik, mesin, alat atau teknik yang tidak ada hubungannya dengan 'makna'. Di pihak lain, ada yang melihat sains dan teknologi sebagai cara membangun 'dunia bermakna', khususnya sebagai 'alat ideologi' dan 'kepentingan'. [xvi]

Jurgen Habermas, di dalam Knowledge and Human Interests, mengajukan tesis mengenai menyatunya kepentingan (interest) dan pengetahuan, di mana pengetahuan berfungsi sebagai instrumen untuk melayani kepentingan tertentu. [xvii] Sains sebagai cara mengetahui dan memahami dunia, sebagaimana dikatakan Laura Nader, seringkali disarati oleh muatan ideologi, melalui peminggiran besar-besaran terhadap model-model sains lainnya, khususnya sains etnis (local sciences). [xviii] Muatan ideologis sains dan teknologi ini juga dilihat oleh Neil Postman, yang mengatakan, bahwa sekali teknologi diterima di dalam masyarakat, ia akan menanamkan nilai-nilai yang didesain untuknya. [xix] Teknologi dapat menciptakan 'monopoli pengetahuan' oleh kelompok dominan, atau sebagai alat marjinalisasi terhadap yang tidak mempunyai ases ke dalamnya.

Relasi antara sains-teknologi dan sastra dilukiskan oleh C.P. Snow di dalam The Two Cultures, melalui ungkapan 'dua budaya' (two culture), yang di dalamnya ilmuwan membuat dua 'benteng kokoh' yang memisahkan 'dunia sains' dan 'dunia sastra'. [xx] Richard P. Brennan melukiskan situasi 'dua budaya' ini, yang di dalamnya ilmuwan tidak 'melek seni' (art literacy) dan sebaliknya sastrawan tidak 'melek ilmiah' (scientific literacy). [xxi] Di satu pihak, seorang seniman tidak mampu mengimajinasikan konsep-konsep seperti fraktal, superstring, biodiversitas, nanoteknologi atau chaos. Di pihak lain, seorang ilmuwan tidak mampu mengimajinasikan makna, keindahan, atau sublimasi sebuah lukisan. Dalam hal ini, John Brockman, di dalam The Third Culture: Beyond the Scientific Revolution, menawarkan 'budaya berpikir baru', yang melaluinya benteng tinggi yang memisahkan antara 'dunia ilmuwan' dan 'dunia sastra' didekonstruksi, dalam rangka membangun sebuah 'medan komunikasi', yang di dalamnya tercipta iklim saling pemahaman bersama (mutual understanding) di antara mereka. [xxii]

Melalui budaya berpikir baru itu, sains dan teknologi-sebagaima na sastra-kini dilihat sebagai sebuah cara membangun 'makna' dan 'dunia bermakna' itu sendiri. Pandangan ini dipertegas oleh John Naisbitt, di dalam High-Tech Hi-Touch: Technology and Our Search for Meaning, yang melihat sains dan teknologi tidak hanya sekedar sarana pemenuhan fungsi utilitas tertentu, akan tetapi merupakan ruang tempat kita mencari 'makna' (meaning). [xxiii] Teknologi dapat menciptakan makna-makna 'nasionalisme', 'maskulinitas', atau bahkan 'spiritualitas', sejauh ia mampu membangun subyek manusia, yang mengidentifikasi diri dengan konsep-konsep bawaan sains dan teknologi itu. Sebaliknya, teknologi dapat memberikan andil bagi penciptaan makna-makna ketidak-adilan, represi, ketimpangan dan marjinalisasi, sejauh ia menciptakan relasi-relasi sosial semacam itu.

Sastra: Utopia, Dystopia, Hiper-topia

Bagaimana menempatkan sastra dalam bingkai perkembangan sains dan teknologi mutakhir, atau sebaliknya-dengan bersandar pada konsep 'budaya ketiga' Brockman-bagaimana menempatkan sains dan teknologi mutakhir dalam bingkai perkembangan sastra? Apakah perkembangan sains dan teknologi mutakhir seperti artificial intelligence, cyberspace atau telesurveillance memberikan 'tanah impian baru' yang menjanjikan bagi perkembangan sastra, atau malah menggiring pada degradasi dan kehancuran sastra? Di pihak lain, apakah sastra mampu berperan dalam 'meluruskan' perkembangan sains dan teknologi, sehingga mengurangi berbagai ekses, sifat melampaui dan penghancuran diri sendirinya?

Pertanyaan tentang bagaimana perkembangan sains dan teknologi mutakhir memberikan 'spirit' pada perkembangan sastra, berkaitan dengan pertanyaan bagaimana sastra 'menggunakan' sains dan teknologi di dalam ekspresi dan narasinya. Dalam hal ini, Raymond Williams, di dalam Problems in Materialism and Culture, menjelaskan dua tipe karya sastra, khususnya fiksi, menyangkut visinya terhadap 'masa depan'-baik yang melibatkan sains dan teknologi maupun yang tidak-yaitu: sastra utopia (utopia) dan distopia (dystopia). Akan tetapi, perkembangan sains dan teknologi mutakhir ke arah hiper-sains dan hiper-teknologi, memungkinkan kita menambahkan kategori ketiga yang tidak terpikirkan oleh Williams, yaitu 'sastra hiper-topia' (hyper-topia).

Pertama, 'sastra utopia', sebagai sastra yang merayakan pandangan optimistik, positivistik dan afirmatif terhadap perkembangan sains dan teknologi. Williams menjelaskan empat tipe fiksi utopian macam ini, yang melukiskan: a) surga, yang di dalamnya sebuah kehidupan lebih bahagia dilukiskan terjadi di sebuah dunia lain; b) dunia yang berubah secara eksternal, yang di dalamnya sebuah kehidupan baru dimungkinkan melalui perubahan terhadap alam; c) transformasi yang didambakan, yang di dalamnya sebuah kehidupan baru dicapai melalui upaya-upaya manusia; dan d) transformasi teknologis, yang di dalamnya sebuah kehidupan baru dimungkinkan melalui penemuan teknis. [xxiv] Sastra utopis yang bersandar pada transformasi teknologis adalah sastra yang 'merayakan' sains dan teknologi dalam ekspresi dan narasinya, dengan menarasikan segala konsekuensi-konsekuensi positifnya.

Beberapa fantasi ilmiah yang dinarasikan oleh para penulis fiksi ilmiah, seperti Bruce Sterling dan William Gibson, dapat dikategorikan sebagai novel yang merayakan utopia, dengan membangun sebuah rekaan atau skenario tentang sebuah 'masa depan' yang menjanjikan kebahagiaan, yang pada akhirnya lewat kemajuan sains dan teknologi menjadi sebuah kenyataan. Misalnya, Novel Williams Gibson, Neuromancer, yang ditulis sekitar tahun 60-an, melukiskan sebuah 'tanah impian baru' tersebut, berupa sebuah rekaan dunia maya yang dibentuk oleh jaringan komputer yang terkoneksi secara global, yang disebutnya matrix. [xxv] Fiksi ilmiah Gibson tersebut kini menjadi realitas keseharian abad informasi, yang kita kenal sekarang sebagai internet atau realitas virtual (virtual reality).

Kedua, 'sastra distopia', yaitu segala bentuk ekspresi dan narasi yang merupakan kebalikan dari sastra utopia. Williams menjelaskan pula empat tipe sastra distopia: a) neraka (the hell), yang di dalamnya sebuah dunia tak menyenangkan dilukiskan terjadi di sebuah tempat; b) dunia yang berubah secara eksternal, yang di dalamnya sebuah kehidupan baru tetapi tak membahagiakan berlangsung karena peristiwa alam yang tak terkendalikan; c) transformasi yang didambakan, yang di dalamnya sebuah dunia baru tapi tak menyenangkan tercipta akibat degenerasi sosial, sebuah tatanan sosial yang merusak, atau konsekuensi-konsekuensi dari upaya transformasi sosial yang berujung bencana; d) transformasi teknologi, yang di dalamnya kondisi kehidupan diperburuk oleh perkembangan teknologi. [xxvi]

Berkebalikan dengan sastra utopia, sebagian besar eksplorasi langsung kondisi dan bentuk kehidupan-sosial dan politik dan juga material-dalam efek dan intensinya bersifat distopian: perang nuklir, peledakan penduduk, pemanasan global (global warming), pengintaian elektronik (electronic surveillance). Sastra distopia melukiskan sebuah masa depan yang kelam, suram, menakutkan, enigmatik dan penuh ketakpastian, sebagai ekses dari perkembangan sains dan teknologi yang tak mampu dikendalikan. Sastra distopia adalah ungkapan kekecewaan, ketaksetujuan dan keputusasaan terhadap arah perkembangan masa depan, terutama yang diakibatkan oleh perkembangan sains dan teknologi. Novel-novel Aldous Huxley, Brave New World (1932), George Orwell, Nineteen Eighty-Four (1949), dan H. G. Wells, The Time Machine (1895), dapat dikategorikan sebagai sastra distopia macam ini. Novel H.G. Wells, misalnya, adalah sebuah lukisan pesimis tentang masa depan, di mana kontrol total manusia oleh teknologi menggiring pada kondisi degenerasi dan dekadensi kemanusiaan. [xxvii]

Ketiga, 'sastra hiper-topia'. Berdasarkan pengaruh perkembangan mutakhir sains, teknologi, sosial, dan budaya dapat dijelaskan di sini beberapa tipe sastra hiper-topia: 1) sastra fatalis, yaitu sastra yang dibangun oleh ketiadaan kategorisasi (indifference) dan ukuran-ukuran tentang baik/buruk, benar/salah, atau membangun/merusak. 2) sastra dekonstruktif (deconstructive), yaitu sastra yang merayakan pencairan batas-batas: utopia/distopia, masa lalu/masa depan, rasional/irasional, nalar/mistik, 3) sastra pastiche, yaitu sastra yang ketimbang melukiskan sebuah 'tanah impian' di masa depan yang dibangun oleh sains dan teknologi mutakhir, justeru mengajak mengembara ke dalam spirit dan 'tanah impian masa lalu' (mitos, mistisisme, kearifan kuno), 4) sastra hiper-realis (hyper-realis), yaitu sastra yang melukiskan sebuah kehidupan yang berkembang menuju 'ekstrimitas', sebagai akibat perkembangan hiper-sains dan teknologi.

Sastra hiper-topia melukiskan arah pertumbuhan sains dan teknologi mutakhir akan menuju pada sebuah masa depan yang suram, bencana kerusakan (catasthrope) atau sebuah 'hari kiamat' (doomsday), akan tetapi tidak ambil peduli dengan segala ancaman resiko itu, memalingkan muka darinya (dengan cara kembali ke dalam pelukan nostalgia), tidak mampu melukiskan resiko itu, atau tidak kuasa menghindarkan diri dari perangkapnya, dan membiarkan diri di larut di dalam 'kenikmatan penuh resiko 'itu, sebelum kehancuran dan bencana yang sebenarnya datang. Novel Umberto Eco, Foucault's Pendulum (1989), Dan Brown, DaVinci Code (2005), dapat dikategorikan sebagai sastra hiper-topia, khususnya dalam kategori sastra pastiche, yang di dalamnya masa depan (utopia) tumpang-tindih dengan spirit masa lalu di dalam sebuah kesatuan narasi yang kontradiktif.

Sains dan Teknologi dalam Sastra Indonesia

Bagaimana perkembangan sains dan teknologi mutakhir berkaitan dan memberikan 'spirit' pada perkembangan sastra kontemporer di Indonesia? Apakah perkembangan sains dan teknologi mutakhir di dalam abad informasi-digital (televisi, video, handphone, internet) membuka sebuah ruang bagi ekspresi sastra atau malah menutupnya? Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dilihat perkembangan mutakhir di dalam dunia sastra di Indonesia, dan bagaimana ia berkaitan secara timbal balik dengan perkembangan sains dan teknologi.

Dapat dijelaskan di sini, bahwa perkembangan sains-teknologi dan sastra di Indonesia secara umum masih terperangkap di dalam bingkai 'dua budaya', sebagaimana dikatakan Snow, di mana perkembangan sains dan teknologi belum dapat memberikan masukan yang berarti pada perkembangan sastra, terutama karena belum berkembangnya sains dan teknologi itu secara signifikan. Di samping itu, minat bagi pengembangan sastra dengan tema-tema sains dan teknologi di dalam dunia sastra di Indonesia, terutama kategori fiksi ilmiah masih rendah, ditambah dengan kondisi perkembangan sains dan teknologi yang belum mendukung ke arah ekspresi macam itu.

Melihat perkembangan sastra sejauh ini, ada dua kecenderungan umum bagaimana sastra 'memperlakukan' sains dan teknologi, yaitu: 1) perayaan sains dan teknologi, berupa kekaguman terhadap perkembangan sains dan teknologi, dan mengungkapkan kekaguman ini di dalam narasi atau fiksi, dan 2) sikap kritis terhadap sains dan teknologi, dengan melukiskan efek-efek merusak dari teknologi, serta bagaimana perkembangan sains dan teknologi menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai yang telah diwariskan sebelumnya. Kecenderungan ke arah hiper-topia belum tampak di dalam perkembangan sastra mutakhir di Indonesia, meskipun hiper-realitas telah menjadi bagian dari dunia kehidupan sehari-hari masyarakat, melalui penggunaan aneka teknologi simulasi, seperti komputer, internet dan realitas virtual.

Spirit utopis tampak di dalam berbagai ekspresi sastra, baik berupa puisi, cerpen atau fiksi. Pesona dan kekaguman terhadap kemajuan dan pencapaian sains menjadi tema utama dari ekspresi sastra, melalui perayaan terhadap peran sains dan teknologi itu sendiri dalam mambangun kehidupan bermakna. Di antara karya sastra utopis yang fenomenal, yang dipengaruhi oleh kekaguman terhadap perkembangan sains mutakhir adalah karya Dewi Lestari, Supernova (2000). Meskipun belum dapat dikategorikan sebagai fiksi ilmiah, karena sejauh ini masih sering dipertanyakan 'riset' dan 'pertanggungjawaban' ilmiah dari novel ini, akan tetapi novel ini dapat dianggap sebagai sebuah 'terobosan baru' dalam dunia sastra, yang mencoba mengambil tema-tema sains mutakhir sebagai tema utama sastra, dengan perkataan lain menjadikan sastra bermuatan 'sains'.

Kecenderungan umum dalam sastra Indonesia adalah spirit distopia, yang diekspresikan di dalam aneka ekspresi sastra. Di sini, ekspresi sastra merupakan sebuah bentuk kritik terhadap perkembangan sains dan teknologi itu sendiri, yang dianggap telah 'merenggut' manusia dari kebersatuannya dengan alam: dengan tanah, ombak, laut, pasir, bunga, hujan atau tepi langit. Karya sains dan teknologi mulai dari yang 'sederhana' seperti jam, kulkas, televisi, sampai yang lebih kompleks seperti komputer, handphone atau internet, dianggap telah menjadikan manusia 'tercabut' dari akarnya di pangkuan alam. Sastra dijadikan sebagai kendaran untuk menyatakan kekecewaan, ketakpuasan dan ketakbahagiaan terhadap kecenderungan sains dan teknologi mutakhir, yang dianggap telah menggiring pada kerusakan lingkungan ekologis, kehancuran alam, kematian sosial, dan degradasi manusia dan nilai kemanusiaan. Kecenderungan distopia ini, misalnya, tampak pada sajak Subagio Sastrowardoyo 'Manusia Pertama di Angkasa Luar' (1982):

Berilah aku satu kata puisi
daripada seribu rumus ilmu yang penuh janji
yang menyebabkan aku terlontar kini jauh dari bumi
yang kukasih.

Seiring dengan perkembangan mutakhir teknologi informasi, di dalam kancah dunia sastra di Indonesia berkembang pula semacam 'sastra elektronik' (electronic literature), melalui berbagai situs, blog atau mailing list sastra. Melalui 'sastra elektronik', tulisan (text) yang di masa lalu memancangkan sebuah pikiran (to fix), kini berubah menjadi hiperteks (hypertext), yang menjadikan pikiran mengapung (floating) dan mengalir (flux). Di dalam jaringan teknologi informasi (internet, tv, handphone, vcd) sastra berkembang menjadi semacam 'sastra jaringan' (net-literature), yang melaluinya komunitas-komunitas sastra berinteraksi dan berkolaborasi secara virtual. Meskipun demikian, perkembangan baru ini masih dilihat lebih sebagai peralihan medium sastra semata-dari teks ke arah hiper-teks, dari kertas ke realitas virtual-ketimbang perubahan substansial dan isi karya sastra itu sendiri (content). Konsep dan prinsip-prinsip sains dan teknologi itu sendiri pada kenyataannya belum banyak memberikan 'ruh' pada ekspresi karya-karya sastra. ***

Ini merupakan makalah yang disampaikan dalam Diskusi Sastra Seri 12 "Sains dan Sastra", diselenggarakan oleh Bale Sastra Kecapi, Harian Umum Kompas & Bentara Budaya, Jakarta, 3 Agustus 2007
.

Catatan Akhir

[i] George Thomas Kurian, Encyclopedia of the Future, Prentice Hall International, 1996, hlm. 958.

[ii] Lihat Marshall McLuhan, Understanding Media: The Extensions of Man, Sphere Books Ltd, London, 1967.

[iii] Timothy Leary & Eric Gullichsen, 'High-tech Paganism' dalam Timoty Leary (ed), Chaos and Cyberculture, Ronin Publishing. Inc., 1994, hlm. 234.

[iv] Ed Regis, Great Mambo Chicken and the Transhuman Condition: Science Slightly Over the Edge, Penguin Books, 1992, hlm. 157.

[v] Timothy Druckery, Electronic Culture: Technology and Visual Representation, Aperture, 1996, hlm. 21

[vi] Mike Gane, Baudrillard Live: Selected Interviews, London: Routledge, 1993, hlm. 7

[vii] Jean Baudrillard, America, Verso, London, 1986, hlm. 84

[viii] Laura Nader, Naked Science: Anthropological Inquiry into Boundaries, Power, and Knowledge, Routledge, 1996, hlm. 3.

[ix] Lihat Jean Baudrillard, Fatal Strategies, Pluto Press, London, 1990.

[x] Donella Meadows, Dennis Meadows, Jorgen Randers, Beyond the Limits: Global Collapse or a Sustainable Future, Earthscan, 1996.

[xi] John Leslie, The End of the World: The Science and Ethics of Human Extinction, Routledge, 1996, hlm. 2-14.

[xii] Lihat Paul Virilio, Speed and Politics, Semiotext(e), New York, 1986.

[xiii] Paul Virilio, Lost Dimension, hlm. 102

[xiv] Dietmar Kamper & Christoph Wulf (ed), Looking Back on the End of the World, Semiotext(e), 1989, hlm. 64-78.

[xv] Lihat John Horgan, The End of Science: Facing the Limits of Knowledge in the Twilight of the Scientific Age, Broadway Book, 1997

[xvi] Joan Lipscombe, Are Science and Technology Neutral?, Butterworth, London, 1979, hlm. 19.

[xvii] Jurgen Habermas, Knowledge and Human Interests, Heinemann, London, 1972, hlm. 312-315.

[xviii] Laura Nader, Naked Science: Anthropological Inquiry into Boundaries, Power, and Knowledge, Routledge, 1996, hlm. 3.

[xix] Neil Postman, Technopoly: The Surrender of Culture to Technology, Vintage Books, 1993, hlm. 7.

[xx] Lihat C.P. Snow, The Two Cultures, Cambridge University Press, Cambridge, 1963.

[xxi] Richard P. Brennan, Levitating Trains & Kamikaze Genes, Harper Perennial, 1990, hlm. xii.

[xxii] John Brockman, The Third Culture: Beyond the Scientific Revolution, Simon & Schuster, 1995, hlm. 19.

[xxiii] John Naisbitt (et.al), High-Tech High-Touch: Technology and Our Search for Meaning, Broadway Books, New York, 1999, hlm. 4.

[xxiv] Raymond Williams, Problems in Materialism and Culture, Verso, London, 1980, hlm.196

[xxv] Lihat William Gibson, Neuromancer, Berkeley Publication Group, 1984.

[xxvi] Raymond Williams, Problems in Materialism and Culture, hlm.196

[xxvii] H.G. Wells, The Time Machine, Penguin Books, 2000, hlm. viii
http://indonesiaartnews.or.id/images/spasi.gif*) Staf pengajar pada program Magister Seni Rupa dan Desain, FSRD, ITB


Sumber dari: Indonesia Art News
Post a Comment

gabung halaman di facebook